fiksi

laporan situasi saat ini:
di harmoni, pukul 2 dini hari.
tanggal tua, tak ada uang untuk taksi.
para pengabdi masih sibuk mengantri.
ada yang berlatih mengernyitkan dahi,
ada yang asik mengupil sendiri,
ada yang komat-kamit menghapal ayat suci.
semuanya berbaris rapi,
sabar menunggu bis untuk pergi
kabur membawa lari kunci segala fantasi.

dalam hati, semua terus berdoa tanpa henti:
wahai yang maha mengasihi, tolong nasib kami direvisi,
tumpahkanlah banyak rejeki,
niscaya kami akan rajin beramal saleh kembali.
kami bosan setiap hari makan satu suap nasi.
rutinitas basi yang menghabiskan energi.

beginilah hidup di ibukota ironi,
detailnya tak ada yang perlu ditutupi.
kami tak mengenal apa itu sunyi.
kami melirik iri, ke masa depan yang tak pasti.

di sini, penuh santri, ramai pencuri.
di sini, setiap nafas adalah ekstasi.
di sini, imajinasi mengalir abadi.
di sini, semua terpenuhi, meskipun hanya dalam mimpi.

sesaat lagi akan datang sang pagi,
sudah tak ada lagi waktu untuk mati.

seandainya semua ini fiksi.

amin.